January 18, 2014

Tentang Hati

Memang betul, ketika Allah menghendaki sebuah rahmat tidak ada satupun yang dapat menghalangi. Begitu juga ketika Allah menutup hati manusia yang telah lama berpaling dari-Nya, tidak pula satupun yang dapat menghadang.

Usiaku kini menginjak 22.
Tanpa kusadari sudah terlalu banyak waktu, tenaga, pikiran, materi yang kuhabiskan sia-sia.
Hingga puncaknya pagi ini...
Aku mendapat tamparan dari pembicaraan via Whatsapp dengan Enha tadi pagi,
"Gak ada ikatan yang sesungguhnya yang diridhai-Nyadan disucikan selain ikatan pernikahan."

Pada saat itu pula tangisku mengalir.

Aku merasa sia-sia dengan ibadah yg kulakukan, karena aku masih saja menduakan-Nya.

Aku mengaku cinta pada Allah, rindu memeluk Rasulullah SAW tapi aku membagi perasaanku pada yang belum pasti namanya tertulis di Lauhul Mahfudz.

Semakin kesini kekecewaanku pada diriku makin besar. Mengapa aku begitu mudah membiarkan perasaan itu mengalir deras pada yang belum pasti.

Semakin kesini aku pun khawatir tidak ada yang bisa kusisakan untuk dia yang Allah jodohkan padaku. Karena perasaanku sudah habis lelah dimakan masa lalu.

Semakin kesini aku takut tidak ada lagi amal yang tersisa saat ajal menjemputku. Karena tanpa kusadari, dosa ku sungguh menggunung...

Namun, aku menyadari rahmat dan ampunan Allah sungguh luas. Skenario-Nya lah yang terbaik. Jika di usiaku yang sekarang aku baru bisa sadar, aku berharap anak-anakku kelak tidak seperti ku. Mereka yang pandai menjaga hati untuk pangeran yang halal dicintai.

+ + +

Ya Allah, kalau dia memang benar jodoh yang Engkau takdirkan untukku, jagalah hati kami untuk tetap setia dengan syariatmu, dan satukan kami dengan jalan yg Kau ridhoi, serta permudah segalanya.


Perjuangan itu memang PAHIT, tapi insyaa Allah hadiahnya surga. :)

No comments:

Post a Comment