May 15, 2014

Girls Day Out

“Dek, besok ikut kak Mega yuk!”
“Kemana?”, jawab adikku penuh rasa tarik.
“Kajian di istiqlal…”, jawabku singkat.
“Yah… Nggak ah.”, tolak adikku sigap.
“Ayuk, daripada nggak ngapa-ngapain, mending cari yang manfaat. Kita naik kereta nanti!”, senyum ku seraya menggodanya. Padahal gak ada hubungannya juga “naik kereta” dan “manfaat”. Ah, tapi sudahlah XD

Minggu, 27 April 2014.
Pagi itu, kira-kira pukul 6.20 adikku dan saya sudah rapi siap menuju stasiun Kebayoran.
Sebenernya untuk menuju Istiqlal, gampang saja tinggal naik Bis Patas 44 jurusan Ciledug-Senen. Tapi jalur yang biasa dilalui digunakan untuk CFD dan aku gatau alternatif jalan yang digunakan apa. Alhasil kami hanya punya 2 alternatif angkutan, Taksi atau Angkot-Kereta.

“Kalo ngetaksi nanti aku mabok lagi kak Mega…”, Ahaha fix lah adekku menolak bila naik taksi.
Akhirnya kita memutuskan naik angkot kemudian nyambung kereta. Aku penasaran juga ngereta ke Istiqlal, jadi pengen coba dengan cara baru. Dari hasil tanya-tanya dengan “anak kereta” sebut saja Enha XD , aku sudah dapet bayangan transit dimana dimananya. Estimasi tiba sekitar 3 jam… Sengaja aku tak beritahu adikku. Bisa jadi langsung dia batalkan rencana kami saat itu juga XD

“Kak Mega aku pake sepatu yang mana?”, adikku bingung.
Ya, kakinya setipe denganku. Panjang. Hampir semua sepatunya sempit, makanya suka bingung kalo bepergian. Adanya sepatu yg kebesaran atau sempit.
“Yang ini aja, Dek.”, aku mengambilkannya sepatu pantofel putih, dengan tinggi hak nya sekitar 1-2 cm.
“Muat nggak? Coba dibawa jalan.”, pintaku memastikan kenyamanan sepatunya.
“Pas sih… tapi gapapa deh ini aja.”, jelas adikku dengan ekspresi 'mau gimana lagi'. Seperti tidak ada pilihan sepatu lain yang fit di kaki nya.

Oke, akhirnya kami GO. Bismillah! 
Di penghujung gang, kami memberhentikan bus metro mini 69 Jurusan Ciledug-Blok M. Kami turun di persimpangan fly over Kebayoran. Perjalanan menuju stasiun terasa jauh karena aku bersama adikku. Khawatir dia sudah capek duluan XD

Ah, aku lupa ini adalah hari minggu, pasar Kebayoran pun tumpah ruah sepanjang jalan hingga stasiun.
Sudah lupa rasanya ke pasar tradisional seperti ini. Aroma sekitar yang khas akan bau ikan, ayam, dan keringat pengunjung. Kesibukan yang lalu lalang. Angkat barang, tawar menawar, ada pula yang jalan tergesa-gesa. Aku tersenyum ... kadang hal seperti ini mengingatkan bahwa diri ini harus banyak-banyak melihat ke bawah.

Pagi itu aku hanya berbekal donat sisa semalem untuk sarapan aku dan adikku. Tapi nampaknya kami lebih tertarik pada jajanan kue cubit di pertigaan jalan pasar menuju stasiun itu.
"Sepuluh ribu ya, Pak. Dapet berapa ini?", tanyaku pada penjualnya.
Alhamdulillah, ada tambahan perbekalan.

Pemberhentian pertama : Akhirnya kami tiba di Stasiun Kebayoran.
Alhamdulillah antrean tiket pagi itu sepi sekali.
"Juanda, ya Mas.", kataku pada penjual tiket.

Stasiun Kebayoran


Ini kali kedua aku kesini setelah perjalanan ku ke Depok beberapa pekan lalu. Entahlah, aku pun lupa untuk mencari informasi jadwal keberangkatan kereta. Seringkali pengumuman keberadaan kereta tujuan Rengas terdengar, namun tidak dengan tujuan Tanah Abang. Ya, menurut informasi dari Enha, rutee perjalananku harus transit dulu di Stasiun Tanah Abang kemudian lanjut menuju Stasiun Kota tujuan Juanda.

30 menit kemudian...
Kue cubit sudah habis empat. Persediaan minum yang semakin menipis. Namun kami masih belum mendengar pemberitahuan keberangkatan kereta yang menuju Tanah Abang. Aku berusaha menyibukkan diri dengan mengajak bicara adikku. Khawatir dia bosan, lelah, lalu minta pulang. *Tidaaaaak...*

Alhamdulillah, setelah hampir sejam, akhitnya kami berangkat menuju stasiun Tanah Abang.
Suasana kereta saat itu padat sekali, aku bergegas menarik adikku mengarahkan ke tiang terdekat sebagai pegangannya.

Ada cerita menarik saat itu.
Kami bersisian dengan tiga ibu-ibu yang asyik seperti ada yang mereka tertawakan. Aku berusaha acuh, walaupun sedikit mengganggu karena mereka cukup berisik.
"Orang udah tua, muntah kok diketawain.", lantang suara seorang nenek.
Aku sigap menengok ke belakangku. Tercium aroma balsem atau semacamnya. Rupanya, ada seorang nenek yang duduk memangku bayi. Beliau duduk di pinggir, tepat di tiang dekat ibu-ibu tersebut. Ada seorang laki-laki yang mengurut pundak nenek tersebut. Dua bocah laki-laki di sekitarnya berdiri tampak memegang tas.

Sambil memegang plastik hitam di depan mulutnya, berkali-kali nenek itu mengulang perkataannya seperti menguras kekesalannya. Anak laki-lakinya diam seperti berusaha menghindari konflik. Suara tawa itu seketika hilang, tapi tidak dengan bisik-bisik yang sampai di telingaku. Aku tak habis pikir, bagaimana bila ibu mereka diperlakukan seperti itu. Aku memilih diam tak ikut campur.

Seketika itu juga aku teringat pada Ibu. Perjuangan dan kesabaran beliau. Tak kuasa kubendung air mata kala itu. Memalingkan muka dari hadapan adikku. Cerita ini mungkin tak seberapa, tapi menggoreskan pesan bahwa bagaimanapun kondisinya ibu-bapak kita : bau; sulit mendengar; pelan berjalan atau lainnya, mereka haruslah mendapat perlakuan dan kasih sayang yang sama.

Ah baiklah, sudah sedih sedihnya.

Pemberhentian kedua : Stasiun Tanah Abang.
Alhamdulillah, sekitar 10-15 menitan sampai juga di Stasiun ini. Ramai sekali. Jumlah peron yang disediakan juga beragam. Kalau tidak salah, hingga 5. Tengok sana sini mencari petunjuk "Stasiun Kota". Sesuai papan petunjuk, kami harus menyusuri tangga ke lantai atas kemudian masuk menuju Peron 3.
"Nah, yang ini, Dek."
Sudah ada kereta menunggu disana, tapi hatiku ragu bila tujuannya sama. Sejujurnya aku pun masih bingung arah jalur kereta ini. Aku memasukkan sebagian tubuhku ke dalam kereta tersebut, menghampiri seorang wanita.
"Mbak, ini bisa ke Juanda?"
Mbak tersebut justru bingung. Ah, yasudah. Kupikir daripada memaksakan keraguanku, aku jalan menuju tempat yang lebih ramai berharap bertemu satpam, tempat ku bertanya.
"Pak, kalo mau ke Juanda disini ya?", Tanyaku.
"Betul, mbak. Tapi harus transit dulu di Manggarai. Dari sana baru nyambung ke Kota, turun di Juanda.", Jelas Pak Satpam.

Okelah kalo gitu.
Jam sudah menunjukkan hampir 8.30. Tempat duduk penuh semua. Aku mencari tiang untuk bersandar.
"Sini, Dek. Tunggu sini aja ya."

Terdengar ada suara itu. Entah itu pengumuman kedatangan kereta tujuan apa. Tapi, dengan izin Allah azza wa jalla, alhamdulillah tidak kurang dari 10 menit kereta kami datang. Kulihat banyak orang berebut memasuki kereta melalui gerbong wanita. Kugenggam tangan adikku. Tas diarahkan ke depan.

"Ayok, Dek!", kataku sambil mempercepat langkah.
Alhamdulillah, kami masih mendapatkan tempat duduk. Beruntung penumpang nya tidak sepadat kereta sebelumnya. Kulihat ada tiga wanita muda berkerudung duduk berhadapan dengan kami. Pikirku mungkin mereka ke tujuan yang sama denganku.

"Dek, kayanya mereka ke Istiqlal juga. Kita ikutin mereka aja apa?"
Tanyaku berusaha menghibur adikku. Walaupun kutahu dia pasti sudah lelah. Dia hanya tersenyum sambil mengeluarkan kue cubit kemudian melahapnya.

Pemberhentian ketiga : Stasiun Manggarai.
Kami dibuat bingung lagi karena ada 2 peron berbeda menuju tujuan yang sama, yaitu Peron 3 dan 5.
Untunglah, ada 2-3 satpam berjaga tidak jauh dari tempat kami turun. Kupastikan dengan bertanya kepada salah satunya.
"Pak, kalo ke Juanda peron mana?"
Pak satpam menunjuk Peron 3, tepat di samping tempat kami berdiri.
Alhamdulillah, diberi kemudahan lagi oleh Allah... Walaupun agak lama kami menunggu disini, namun masih ada bangku kosong tempat kami mengistirahatkan punggung dan kaki kami.
"Kita duduk dulu sini, Dek."

Kereta kami tiba.
Alhamdulillah bisa duduk lagi. Kami duduk persis di pinggir pintu gerbong terakhir. Dari kejauhan, aku melihat tiga wanita muda tadi. Menambah keyakinanku bahwa mereka juga menuju tempat yang sama. Adikku mulai mengeluhkan kaki nya. Dia melepaskan kaos kaki sebelah kanan. Tampak jari telunjuknya memerah biru. Mungkin karena ketekuk sempit.
"Kalo udah mau sampe, dipake lagi kaos kakinya Dek. Takutnya makin lecet nanti..."
Adikku balas mengangguk. Tampak peluh di raut mukanya. Seraya dalam hatiku, maafin Kak Mega ya Dek...

Pemberhentian terakhir : Stasiun Juanda.
Ini kali pertama nya aku kesini. Stasiunnya lebih rapi, mungkin karena sudah dibangun menyerupai gedung. Berbeda sekali dengan stasiun Kebayoran. Ternyata kami harus menyeberangi halte transjakarta dulu hingga akhirnya tiba di Mesjid Istiqlal. Perjalanan itu lebih terasa kala ku teringat bahwa kaki adikku sakit.
"Alhamdulillah ya Dek, udah keliatan tuh kubah nya."

Selesai menyeberangi halte transjakarta, tidak jauh dari pintu Masjid ada penjual es dawet. Dalam hati, pasti si adek gak nolak kalo ditawarin XD. Ya, kami pecinta es dawet. Aku pun tak bisa menahan nangka yang tampak dari luar toples. Aku sukaaaa.
"Bungkus ya, Pak", kataku pada Bapak tua penjual Es Dawet.

Tampak pintu masuk mesjid di kejauhan, tapi kami harus berjalan lagi.
"Sedikit lagi sampe... Sedikit lagi. Ah, sabar adikku." Aku bergumam dalam hati,

Alhamdulillah, setelah hampir 3 jam akhirnya kami sampai. Alhamdulillah, adikku bisa mengistirahatkan kakinya...
"Penuh juga ya, Dek..."



Jam saat itu menunjuk hampir 9.30. Sudah tidak memungkinkan lagi kami ke shaf depan.
Alhamdulillah, ada lagi pertolongan Allah. Walalupun kami di shaf belakang, tapi kami dekat dengan monitor LCD yang tepat di depan pandangan kami. Banyak juga yang membawa anak serta keluarganya. Teringat pernah ada pembicaraan dengan Enha beberapa pekan lalu di tempat yang sama. Sedikit berandai-andai bila kita dan keluarga bersama-sama pergi menuju kajian di masjid. Tidak hanya untuk charging iman, aku rasa hal itu bisa meningkatkan bonding kita terhadap keluarga.

"Semoga masjid menjadi tempat favorit bagi suami dan anak kita kelak ya..."
Aamiin.

Sambil mengipas-ngipas ke arah tubuh adikku yang tertidur di pangkuanku, berikut sedikit yang bisa kucatat dari kajian disini :
1. Bahasan yang sangatt khas oleh Ustadz Yusuf Mansyur, yaitu kekuatan sedekah. Kata-kata ini beliau ulang-ulang seperti menyiratkan janji pasti dari Allah, bahwa sedekah itu tidak ada sisa berapa, justru jadi berapa
Bagi saya, bukan masalah sedekah itu dibalas atau tidak dibalas. Karena pasti sedekah itu akan dibalas. Yang menarik adalah bagaimana cara Allah membalas sedekah itu yang akan menjadi kejutan
2. Yang selanjutnya adalah tentang ibadah.
Kerugian yang sebenar-benaranya adalah ketika kita ninggalin sholat, ninggalin ngaji, ninggalin sedekah, ninggalin sholat malam, ninggalin dhuha, ninggalin majelis ilmu. 
3. Sesi yang paling ditunggu, yaitu doa bersama. Doa untuk diri sendiri dan mendoakan orang lain dalam diam. Berikut salah satu doa yang pernah dipanjatkan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam kepada Allah. (saya lengkapi kata-katanya setelah melalui pencarian di dunia maya, in syaa Allah shahih wallahu a'alam bishowab)

Dari Aisyah Radhiyallahu 'Anha menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah mengajarkan kepadanya doa ini:
Ya Allah, Aku meminta kepada-Mu kebaikan yang diminta oleh hamba & Nabi-Mu (Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam) kepada-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang hamba dan Nabi-Mu berlindung kepada-Mu darinya.

(HR. Ahmad, Ibnu Majah dan selainnya; dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 1276)


***

Masjid Istiqlal


Sebelum dzuhur kajian sudah selesai. Kami berburu makan siang. Disana banyak pedagang makanan mulai dari es goyang, pecel, baju muslim, hingga mainan anak. Ada pula soto betawi yang uenak puol. Harganya Rp.16.000 saja. Pas dengan perut kami yang kelaparan saat itu XD
Selesai makan siang, kami bergegas menuju tempat selanjutnya.

Aku ini tipe yang sulit memutuskan. Suka bingung dengan pilihan yang ada. Bahkan suka mengubah keputusan di menit-menit terakhir. Salah satunya saat memutuskan naik kendaraan apa untuk menuju kawasan Blok M. Tanya satpam sudah, googling sudah. Aku memutuskan untuk ke kawasan Monas dulu, kemudian nyambung Transjakarta. Kendaraan yang paling memungkinkan adalah taksi. Banyak bajaj disana, tapi ternyata bajaj tidak diperbolehkan melewati kawasan tersebut.

Akhirnya kita naik taksi. Lumayan bisa menghilangkan kegerahan dalam dada *apasih, Meg *
Rp. 15.000 saja. Harga  yang sama yang ditawarkan abang-abang bajaj XD

Usai turun dari taksi, kami menyebrang menuju halte Transjakarta. Alhamdulillah, cepet juga datangnya.
Transjakarta saat itu penuh sekali. Kuarahkan erat adikku, jauh dari penumpang laki-laki. Memang harus hati-hati disini, tidak hanya ada pencopet, bahkan kasus pelecehan seksual pun tidak sesekali terjadi.

Halte Masjid Agung.
Akhirnya kami tiba di tujuan kami selanjutnya, Mesjid Al Azhar.

Ada yang menarik disini, yaitu Ustadz Felix Siauw.
Sekitar belasan tahun mualaf, tapi ilmunya Masyaa Allah... Berbeda sekali denganku yang sudah muslim sejak lahir, tapi ilmu belum seberapa .____.
Kajian ini berlangsung dari pukul 1 siang hingga 3 sore membedah buku beliau yang berjudul Khilafah. Salah satu alasan yang membuatku datang adalah karena pernah ada pembicaraan tentang sistem Khilafah dengan seorang teman. Aku tak cukup ilmu memperpanjang diskusi tersebut, lalu kupikir mungkin ini salah satu jalan ku menambah ilmu mengenai sistem Khilafah itu sendiri.


Picture taken from @benefiko Instagram

Kajian ini semakin menarik ketika Ustadz M. Fatih Karim mulai menggebu-gebu dalam menyampaikan dakwahnya. Kemudian dilanjutkan dengan Syaf Muhammad Isa, salah satu pencerita dalam buku Ghazi karangan Felix Siauw. Terakhir, kajian ditutup oleh cerita penuh hikmah oleh Teuku Wisnu. Perjalanan hijrah beliau dari pergaulan bebas di kalangan artis hingga akhirnya ia memutuskan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui jalan dakwah.


Picture taken from @benefiko Instagram

Maaf sebelumnya, hanya sedikit ini yang mampu  kuingat dari kajian ini, karena handphone sudah lobet saat itu :
Islam merupakan agama yang segala hal nya mempunyai aturan. Bagaimana berdoa, beribadah, bermuamalah, berpakaian, hingga ilmu memasuki kamar mandi pun diatur. Manusia dilatih menjadi manusia terbaik, manusia yang disiplin. Ingat bahwa dunia adalah tempat kita berlomba-lomba melakukan kebaikan. Tak usah peduli terhadap celaan manusia, karena celaan tersebut tidak akan pernah menambah bahkan mengurangi pahala kita. Cukuplah Allah yang menyaksikan. Pelajari islam sejak dini. Dalami dan terapkan. Zaman makin keras, bergeser jauh mendekati banyak penyimpangan. Kalau bukan kita lagi yang menegakkan agama Allah ini, siapa lagi...
Wallohu a'lam bishowab
***

Tujuan terakhir adalah Gandaria City Mall.

Setelah hampir seharian mengarungi kerasnya jalanan *halah*, aku mengajak adikku ke acara Hijab Day, tepatnya di Skeeno Hall. Udah gak sempet dress up apa-apa. Flat shoes, no make up, no touch up. Selain untuk silaturahmi dengan teman SMA, sekaligus memenuhi janjiku pada si Adek untuk jajanin Ropan XD

Likah - Mega - Galih

Alhamdulillah, sekitar 21.30 sudah dirumah kembali.
*maafkan kakak mu ini ya, Dek. Semoga kamu nda kapok XD


Aku dan Adikku

2 comments:

  1. Rutenya panjaang ya gaa buat ke istiqlal. Dan Masyaa Allah masih berlanjut ga cuman al azhar tapi juga sampe gandaria city mal.
    Barakallah buatmu, adikmu, keluargamu,, :'

    Btw,,
    "Semoga masjid menjadi tempat favorit bagi suami dan anak (kita) kelak ya..."

    kita...siapa ? XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan... masih ada part story yang nggak kuceritakan disini XD
      barakallahu fiik, buatmu, keluargamu, dan... keluarga masa depanmu :)

      itu doa dalam hati aja sih (ngeles), intinya kita pernah membicarakan itu kan Een... XD

      Delete