June 29, 2014

Belajar Berbesar Hati

Tepat seminggu lalu, aku mengajak adikku untuk memenuhi undangan pernikahan teman kantor. Tanpa ragu, ia langsung mengiyakan pintaku.

Kira-kira sudah 45 menit dan kami masih terjebak macet di tol Tomang. Jalanan malam itu... subhanallaah padat.
Adikku sempet mengeluh mual, "Kak Mega, aku eneg...".
Perjalanan kami masih di tol, nggak ada plastik atau wadah penampung lainnya di dalam mobil, dan tumben-tumbenan aku meninggalkan peralatan tissue serta obat-obatan di kamar.
Sambil berusaha mengajaknya terus berbicara, berharap ia lupa akan mualnya.
Waktu sudah lewat hampir 20 menit sejak masuk maghrib dan kami masih terjebak di macetnya jalur tol Tomang.
Kami memutuskan keluar di tol Semanggi berharap ada warung kecil untuk sekedar mencari tempat pemberhentian sementara dan membeli plastik atau antimo.

Sambil menyusuri sepanjang jalan Gatot Subroto, akhirnya ada tanda-tanda masjid. Kubah putih yang bulat besar di sebelah kiri jalan tampak dari pandanganku. Alhamdulillah adek bisa tahan hingga kami berhenti di masjid tersebut. Masjid Baitul Mughni, daerah Kuningan. Aku familiar sekali dengan tempat ini karena tidak jauh dengan lokasi kantor. Walaupun baru pertama kali sholat disini, tapi pemandangan di dalam tidak sebagus bila dilihat dari luar. Toilet dan tempat wudhu yang kurang terjaga kebersihannya. Dari dalam area wudhu yang letaknya tepat berseberangan dengan area utama sholat, terdengar suara anak-anak yang sahut menyahut dengan suara lainnya. Ramai. Beberapa remaja laki-laki dan perempuan asik berdiskusi duduk di pelataran bawah masjid. Sepertinya masjid ini mempunyai kegiatan yang cukup aktif.

Ah ya, cerita ini bukan tentang narasi sebuah masjid kok.
Tapi di masjid itu aku belajar dari gadis kecil dan sekelompok teman-temannya. Mereka seusia siswa Sekolah Dasar. Mulai dari yang bertubuh kecil hingga kelewat tinggi pun ada. Jumlah mereka sekitar 7-8 orang. Seperti yang kubilang tadi, ternyata kelompok yang ramai sahut menyahut itu berasal dari mereka. Lari sana sini mengelilingi area sholat akhwat. Bahkan hingga aku hendak memulai sholat mereka masih asik berlari-lari. Aku mengambil tempat sholat persis di samping tiang bagian tengah. Aku pun sengaja meletakkan kotak amal sebagai sutrah, pembatas teritorial sholatku. Sekaligus menghindari kalau-kalau ssegerombolan itu lewat di hadapanku. 

Beberapa menit kemudian, ada satu-dua gadis yang lari tepat dihadapanku. Masuk melewati batas sutrah. Tidaklah sesekali mereka begitu. Sholat pun menjadi kian tidak khusyu karena semakin banyak yang berteriak satu sama lain. Sabar...

Hingga selesai sholat dan berdzikir sebentar, aku menegur mereka.
"Adek-adek, kalo ada orang sholat jangan dilewati ya, kasian nanti adek-adek dosa"
Kemudian aku memalingkan muka melanjutkan berdoa.

Selesai berdoa sambil melipat mukenah, tiba-tiba seorang gadis salah satu dari mereka menghampiriku, lalu mengulurkan tangan.
"Kak, aku minta maaf ya..."

Tanganku membalas jabatnya, "Iya Dek, maafin aku juga ya."

Dan kemudian semua kawanan nya ramai mengerumuni tempat sholatku, meminta maaf. Sambil berjabat tangan dan kami berpelukan. Adikku yang berada tepat di sampingku tersenyum agak bingung. Tapi entah kenapa suasana menjadi sangat haru kala itu.

Ah, anak kecil, kehidupan kalian begitu indah. Kami yang dewasa harusnya malu pada kalian yang begitu mudah meminta maaf, begitu ringan memaafkan.

Terima kasih gadis-gadis kecil, aku harus banyak belajar dari kalian.

No comments:

Post a Comment