June 8, 2014

Sabtu Sore

7 Juni 2014.

Berbekal rok navy, kaos putih yang dilapisi jaket biru panjang, kerudung bergo putih punya Ibu, kaos kaki coklat, dan niat mencari jajanan sore, aku dan -sebut saja mawar- melangkah ke arah Universitas Budi Luhur, letaknya dekat dari rumahku. Roti Bakar Eddy adalah tujuan awal kami. Namun berbelok ketika mengingat ada Dunkin Donuts di Giant Supermarket, Ice Chocolate nya sungguh favorit! :D

Sudah lama sekali tidak pernah quality time dengan nya. Sesimpel dengan mencari warung makan kecil kecilan dan obrolan yang sungguh berkesan hingga tak jarang meninggalkan PR. Segelas kopi yang tidak pernah ketinggalan dipesannya, Ice chocolate dan 2 donat menemani sore kami hingga menjelang maghrib.

Aku membuka topik.
Sambil menunjukkan foto yang beberapa hari lalu aku capture di masjid kantor, aku ceritakan kesedihanku tentang shaf sholat akhwat yang renggang-renggang. Kemudian disambung dengan pengalaman dia tentang teman-teman kantornya yang sulit diajak sholat bila adzan sudah berkumandang. Pengalaman pertamaku tentang ruqyah pun ku ceritakan. 

Ada pula cerita (yang baginya) menggugah, yaitu ketika ia sholat di sebuah masjid di kawasan Hayam Wuruk. Disana hanya dia seorang yang berpakaian kaos dan jeans. Jamaah lainnya kompak gamis putih menjuntai panjang mengatung diatas mata kaki dan... berjenggot panjang. Asing. Namun ia berusaha optimis tidak salah memilih tempat ibadah, khawatir berada dalam suatu jamaah 'tertentu'. Seusai sholat, ada seorang lelaki menyambanginya. Menegur karena celana nya tidak digulung (melewati batas mata kaki). Entah ia lupa atau bagaimana untuk menggulung ke atas bawahan celananya, namun ia cukup salut di zaman seperti ini, ditengah orang-orang banyak memilih diam ketika melihat yang salah daripada menegur.

Memilih diam karena merasa tidak enak hati? Atau memilih diam karena khawatir dianggap sok suci?
"sulit mencari amar ma'ruf nahi munkar di zaman seperti ini. Sholeh/sholehah yang individualis."
*deg*  even without realizing it, you've taught me a lot.

Obrolan kali ini banyak didominasi olehnya. Bukan tentang gadget terbaru, gundam, games, atau mobile apps yang sedang di develope nya. Melainkan kebanyakan tentang problematika personal keagamaannya dan keluarganya. Sesekali kuselipkan cerita mengenai keingingan ku yang ingin segera... menikah. Hohoho, nggak ding. Keinginan ku yang ingin resign.

Menjelang maghrib... kami tutup perbincangan impulsif sore itu.

Untuk-mu/ku, sesekali lihatlah ke bawah untuk terus bisa bersyukur dan perlu juga melihat keatas untuk motivasimu jadi pribadi yang lebih kuat.
Untuk-mu/ku, manfaatkan waktumu untuk hal-hal yang bermanfaat bagimu, dunia-akhirat.
Untuk-mu/ku, takkan pernah sesal bila memilih mendekat pada Allah.
Untuk-mu/ku, jangan berharap dan bergantung pada manusia karena bisa rapuh. Cukup bagimu Allah.

Terima kasih, Untukmu.
Sampai berjumpa lain waktu.

No comments:

Post a Comment