July 12, 2014

Bargaining Ibadah

Ada sebuah kisah tentang seorang anak yang melihat Ibunya sedang menyiapkan hidangan di dapur. Sambil membawa secarik kertas dan pena, anak ini berjalan menghampiri ibunya. Perhatian ibu terpotong ketika si anak berucap sekaligus menuangkan perkataannya ke dalam tulisan di kertas tersebut.
Bu, dulu aku pernah membantu Ibu membelikan bahan dapur ke warung, ongkos upahnya Rp. 200.000 ya.

Aku juga pernah membantu menjaga adik ketika Ibu pergi bekerja ke luar kota, ongkos upahnya juga Rp. 200.000.
Suatu ketika aku pernah membuang sampah rumah kita yang sangat banyak itu, ongkos upahnya Rp. 200.000 ya, Bu.
Ketika itu aku juga pernah membereskan tempat tidur, ongkos upahnya juga Rp. 200.000.
Ibu juga pernah memintaku menyapu halaman rumah, itu ongkos nya Rp. 200.000 juga, Bu.
Jadi, total ongkos upah yang Ibu harus bayar padaku adalah satu juta rupiah.
Kertas pun telah terisi nomor dan kelima jenis ongkos upah serta jumlah nominalnya.
Kemudian si Ibu tersenyum sambil memandang si anak dengan raut wajah yang berbinar-binar. Ibu mengambil pena, membalikkan halaman kertas tersebut dan mulai menuliskan sesuatu.
Nak, waktu Ibu mengandungmu, 9 bulan 10 hari  Ibu membawa tubuhmu kesana kemari. Ongkosnya Rp. 200.000.

Ketika umurmu masih balita, Ibu terjaga sepanjang malam untuk menjagamu. Itu ongkosnya Rp. 200.000.
Menginjak dewasa, Ibu tidak sesekali dimarahi oleh tetangga karena sikap nakalmu kepada anak tetangga di rumah kita dulu. Ongkosnya juga Rp. 200.000.
Ibu juga ingat ketika Ibu khawatir memikirkan keadaanmu yang belum kunjung pulang ke rumah, padahal hari sudah larut. Ibu takut, nak. Ongkosnya Rp. 200.000 ya anakku.
Tiap harinya Ibu tidak pernah meninggalkan bekal makan dan minum mu walaupun Ibu harus bangun lebih subuh. Ongkosnya Rp. 200.000.
Total ongkos yang harus kamu bayarkan pada Ibu juga senilai satu juta rupiah ya, Nak. Ibu berjanji akan melunasi upah Ibu padamu. Tapi dengarlah wahai anakku, upah satu juta rupiah yang harus kamu bayarkan pada Ibu adalah sebagian kecil nilai dari kehadiranmu di dunia menemani Ibu saat ini. Cukuplah kamu di sisi Ibu, Nak.
Mari kita analogikan kisah ini ke dalam keseharian kita beribadah kepada Allah. Apakah sujud, doa, infaq, serta kebaikan-kebaikan kita terhadap orang lain sudah lillahi ta'ala? Sudahkan muara dari ibadah kita selama ini karena hanya mengharap ridho Allah? Atau jangan-jangan demi mendapat upah dari Allah semata?
Cerita ini disampaikan sebagai penutup tausiyah oleh seorang ustadz maaf-saya-lupa-namanya di Masjid Al-Azhar minggu malam lalu selepas ba'dha Isya menjelang tarawih.

Semoga menjadi renungan bersama.

- Penulis yang mudah tertawan dosa -


No comments:

Post a Comment