July 19, 2014

Bersikap pada Cinta

Teringat kisah cinta Fathimah dan Ali, serta bagaimana keduanya mengelola sebuah rasa, cinta.

Dan semakin teringat pula oleh sebuah karya dari Salim Akhukum Fillah dalam bukunya Jalan Cinta Para Pejuang di salah satu chapter favorit ku, "Mencintai sejantan Ali". Mengisahkan sebuah perjalanan cinta yang sepatutnya diteladani bagi para pejuang cinta sekarang ini.
Belajarlah untuk mencintai sejantan Ali.
Karena sesungguhnya cinta tidak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
Ia adalah keberanian atau pengorbanan.
Diriwayatkan pula setelah mereka melangsungkan pernikahan Fathimah berkata kepada ‘Ali,
"Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda".
Ali terkejut dan berkata, "Kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan Siapakah pemuda itu".
Sambil tersenyum Fathimah berkata, "Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu".

Bagiku, kisah ini sungguh menarik di tengah ramainya orang-orang semakin berlomba-lomba mengumbar perasaan sebelum 'waktunya'. Menarik ketika keduanya telah memiliki perasaan yang sama semenjak mereka belum menikah tetapi dengan rapat keduanya menjaga perasaan itu. Menarik ketika membiarkan 'cinta dalam diam' menjadi rahasia tersendiri antara kita dan Sang Penggenggam Hati. Dan semakin menarik ketika mengetahui hadits ini,
Barangsiapa sangat mencintai seseorang kemudian ia tetap menjaga diri dari perbuatan dosa dan menyimpan cintanya sampai ia mati karenanya, maka ia telah mati syahid.
HR. Hakim, Hatib Ibnu Asyakir dan Dailami.

Perasaan yang in syaa Allah akan indah pada waktunya :)

No comments:

Post a Comment