August 3, 2014

Aku dan Sendiriku

Mencoba meluangkan waktu untuk kembali mengingat moment di tanggal 13 Juli 2014 lalu.
Pernah tercatat di notes handphone mengenai kajian Rumah Quran yang digawangi oleh Ustadz Felixsiauw beserta tim nya di Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia. Tidak banyak point yang mampu tercatat mengenai isi kajian ini karena saya pun telat tiba, harus menyelesaikan urusan di tempat lain dulu. Waktu itu menunjukkan pukul 11, padahal acara mulai sejak jam 9 pagi.

Namun saya mencoba merangkum sisa-sisa kajian saat itu, yaitu bahwa barometer muslimah bukan diukur dari fisik. Ketika ia diukur oleh fisik mungkin analoginya seperti ini :
seorang wanita ketika berumr 22 tahun, maka ia bagaikan permainan bola sepak, yang diperebutkan oleh 22 orang laki-laki.
Ketika berumur 30, bagaikan permainan bola voli, yang diperebutkan oleh 12 orang laki-laki.
Ketika berumur 40, bagaikan permaianan tenis, yang diperebutkan hanya 4 orang laki-laki.
dan ketika berumur 50 keatas, maka ia bagaikan permainan Golf, yang ketika setelah dipukul oleh stick, maka ia menghilang tanpa ada yang mencari atau memperhatikannya.

Selanjutnya di akhir sesi, Felix menutup dengan kalimat bahwa barometer kesuksesan adalah tingkat ketakwaan seseorang, yang terbagi menjadi 4 esensi takwa : memiliki rasa takut kepada Allah, taat terhadap hukum Allah, ridho dengan segala ketetapan Allah, dan yakin bahwa semua akan kembali kepada Allah.



Namun, selalu ada yang menarik dalam setiap bepergian sendiri. Khususnya pada hari itu. Ketika jeda antara waktu sholat dzuhur menuju kajian sesi selanjutnya, saya melangkahkan anggota tubuh untuk pindah ke barisan depan. Kebetulan saya sedang berhalangan saat itu, jadi banyak shaf kosong karena jamaah sedang menunaikan sholat dzuhur. Saat itu, saya duduk bersampingan tepat dengan seorang ibu dan anak gadisnya.
Seiring kajian dimulai, host mengumumkan bahwa ada bintang tamu dari kalangan artis yang akan turut menjadi narasumber pada kajian selepas dzuhur ini. Adalah Tommy Kurniawan. Seorang aktor di serial tv yang sekarang sudah mulai hijrah merambah ke dunia dakwah.

"Dia siapa?", tanya ibu tersebut sambil menoleh ke arahku.
"Oh, dia Tommy Kurniawan, Bu. Artis yang biasa main di ftv gitu.", jawabku cepat.
"Hmm pantes, saya gatau." Lanjut Ibu tersebut, "... karena kalo dirumah, saya gak diijinkan oleh suami menonton tv apalagi sinetron dan infotainment"
Dalam hati ngebatin, "hmm ketauan deh siapa yang sering nonton tv". Astaghfirullahaladzhiim...

Pembicaraan semakin menarik, perhatianku teralihkan oleh jawaban ibu tersebut.
Aku membuka pertanyaan lagi, "wah masyaa Allah ya Bu. Jadi kalo dirumah Ibu dan keluarga nonton tilawatil Quran gitu atau gimana?"
"Iya betul, suka mendengarkan kajian bersama suami dan anak juga" Lanjut ibu tersebut, "Tapi kalo anak sesekali masih diberi waktu untuk nonton kartun, untuk hiburan aja." 
Kemudian saya tertegun sejenak. Haru diiringi rasa penuh harap besar kepada Allah.
Harap yang kusimpan sebagai proposal untuk kutujukan kepada Allah, satu-satunya zat yang Maha Berkehendak.
Ada cerita lain juga di malam terakhir itikaf, alhamdulillah Allah juga pertemukan saya dengan seorang yang melaluinya ada hikmah tersirat. Cantik nan bersinar wajah wanita tersebuy. Tampak sungguh sholehah lagi keibuan.
Beliau menyapaku, "kesini sama siapa, dek?"
"Sendiri, Bu.", jawabku. "tapi ada budeh saya di belakang sana, beliau bersama teman-teman pensiunannya dari RSCM." Lanjutku meneruskan.
"Ibu kesini sendiri juga?", tanyaku sambil membangun keakraban.
"Oh nggak, saya dengan suami". Kemudian langsung disela dengan pertanyaan lagi, "tapi kamu udah nikah?"
Sambil merekahkan senyum, "alhamdulillah 'alla kulli haal, belum Bu."
"Hehe gapapa, semoga tahun depan sudah ada mahram yang menemani itikaf ya", respon gembira darinya sembari menepuk pundak kananku.
Dan seketika hati terasa berteriak, "AAMIIN..."

Haha, selalu saja. Allah selalu memperkenankan diri ini bertemu dengan orang-orang baru yang membuatku makin bersyukur atas segala nikmatNya, bagaimanapun keadaannya.
Membuatku merasa bahwa tidak setitik pun ku rasa sia-sia menikmati kesendirian ini.
Memetik pelajaran yang mungkin hanya bisa kudapat ketika aku dengan sendiriku.
Menikmati masa-masa indahnya berkhalwat dengan Allah.
Masa-masa menyibukkan diri mengisi ceklist perbaikan diri yang tiap harinya kian bertambah sejalan dengan menumpuknya dosa yang tak kasat mata.
Masa-masa ketika aku masih mampu menyempurnakan bakti ku kepada Bapak di sisa umurku.
Masa-masa.... ah, tak sedikit.

No comments:

Post a Comment