October 1, 2014

Penyesalan Orang yang Beramal

"Kenapa tidak lebih jauh, kenapa tidak semuanya,
kenapa tidak yang baru"

Kiranya seperti itu inti perkataan Tsauban ketika mengalami sakaratul maut - yang dikutip oleh istrinya sebagai jawaban atas pertanyaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang beliau temui di tengah perjalanan menuju rumah Tsauban.

Tsauban adalah salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang selalu rutin sholat berjamaah persis di belakang sang baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Suatu waktu Tsauban tidak terlihat selama berhari-hari hingga kemudian kealpaannya membuat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam penasaran dan bertanya kepada para sahabat yang lain. Tidak satupun dari mereka yang mengetahui keberadaannya. Hingga akhirnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat pergi mengunjungi rumah Tsauban. Diketahui bahwa perjalanan menuju kesana tidaklah dekat karena harus melewati bukit-bukit. Saking jauhnya, Tsauban selalu membawa perbekalan roti untuk pergi ke masjid sholat berjamaah dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kembali ke kutipan pesan Tsauban diatas.
Istri dan para sahabat tidak mengerti maksud perkataan Tsauban tersebut dan melayangkan pertanyaan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Melalui penjelasan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dikisahkan bahwa jarak antara rumah Tsauban dan masjid tempat ia biasa sholat berjamaah dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam cukup jauh. Suatu ketika ia hendak ke masjid, Tsauban bertemu dengan seorang kakek (dalam riwayat lain dikatakan juga orang buta) yang akan pergi ke masjid dan Tsauban bersedia mengantarkannya. Saat sakaratul maut, Tsauban melihat pahala yang luar biasa dari mengantarkan kakek tersebut ke masjid. Ia menyesal karena hanya jarak dekat saja ia mengantar sang kakek. Jika lebih jauh lagi ia mengantar sang kakek, pahala yang akan diperolehnya pun lebih besar.

Adapun perkataan Tsauban kenapa tidak semuanya adalah tentang kisah perjalanan nya menemukan orang kelaparan saat menuju masjid. Saat itu ia berikan separuh roti yang menjadi bekal perjalanan nya. Saat sakaratul maut, ia pun menyaksikan balasan yang luar biasa atas amalnya tersebut. Ia pun menyesal mengapa tidak semua bagian roti ia berikan saat itu. Jika semua roti yang ia sedekahkan, maka ia akan menerima balasan baik yang lebih besar.

Kemudian untuk pernyataan ketiga, mengapa bukan yang baru. Terkisah bahwa ketika saat musim dingin ia menemukan orang yang kedinginan di perjalanan menuju masjid. Ia memberikan satu dari empat lapis baju yang dikenakan nya untuk orang tersebut. FYI, orang Arab terbiasa menggunakan pakaian berlapis-lapis saat musim dingin. Tsauban memberikan pakaian yang paling luar dan itu bukan pakaian baru. Padahal, pakaian lapis kedua setelah pakaian yang diberikan pada orang yang kedinginan itulah pakaian yang terbaru. Ia melihat bahwa balasan pemberian baju bekasnya tersebut sangat baik. Namun, ia pun menyesal mengapa tidak diberikan saja pakaian nya yang baru saat itu.
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [ Q.S An-Nahl : 97 ]
Hmm, kita memang tidak pernah tahu amal kita akan bernilai seperti apa. Yang menurut kita sempurna pun belum tentu begitu dimataNya. Terlebih perihal niat, yang mempunyai ruang dan waktu cukup luas untuk berbelok sana sini. Semoga Allah teguhkan iman ini pada jalanNya yang lurus. Jalan yang diberi nikmat, bukan jalan orang yang dimurkai lagi sesat. Aamiin...

*cerita yang pernah dibaca dari majalah islami maaf-saya-lupa dengan mengandalkan ingatan sekenanya*

No comments:

Post a Comment