October 4, 2014

Sepenggal tentang Khitbah dan Nikah

Perbedaan sebelum dan sesudah di khitbah
Tidak ada perubahan status apapun. Yang berbeda jenis kelamin. Yang berbeda hukumnya. Yang bukan mahram, tidak boleh berduaan, tidak boleh melihat aurat lawannya, tidak boleh bercampur baur, dan seterusnya. Tidak ada keringanan sedikitpun, atau (katakanlah) kemurahan sedikit pun yg diperbolehkan oleh pasangan, sebelum atau sesudah khitbah. Jatuhnya sama saja, tetap haram… Haram berpegangan, berduaan, bersentuhan, melihat aurat. Kedudukannya sama persis dengan orang yang belum mengkhitbah calonnya.

Yang membuat berbeda antara wanita yang sudah di khitbah dgn yg belum
Bahwa wanita yang sudah menerima khitbah dari orang lain tidak boleh tiba-tiba menikah begitu saja dengan orang lain. Seakan-akan di tag. Tapi ada masanya dalam sebuah khitbah, ketika seorang lelaki mengajukan keinginan untuk mengkhitbah, khitbah itu belum sah kalo belum dijawab iya atau tidak. Misalnya, ada seorang laki-laki mendatangi pihak keluarga perempuan, "saya ingin mengkhitbah putri bapak" itu baru sekedar proposal, baru sekedar pengajuan, proposal belum di approve. Laki-laki itu tidak bisa bilang "itu calon bini gw", kecuali dari pihak wanita sudah ada jawaban "ya kami terima khitbah anda". Kalo sudah begitu, barulah wanita itu makhtubah, dia terkhitbah. Dalam posisi itu, wanita tidak boleh menikah atau menerima khitbah dari orang lain kecuali atas izin dari yang mengkhitbah tadi. Misalnya, si wanita sudah terima khitbah dari lelaki A, kemudian tiba-tiba datang lelaki B. B sih tidak mengkhitbah, cuma akhwat membanding-bandingkan antara ikhwan A dan B, Asikan B ternyata. Kata B "sayang sekali dirimu belum dikhitbah oleh A, seandainya belum saya deh" – itu bukan khitbah. Wanita tersebut bisa mendatangi pihak lelaki A, "mohon maaf dengan khitbah yg sudah diterima, kami batalkan" – dibatalkan secara sepihak oleh pihak perempuan baik secara sopan atau tidak.

Bedanya ikatan antara khitbah dan nikah
Kalau nikah, si wanita (istri) tidak bisa memutuskan hubungan sepihak karena yang bisa menjatuhkan talak hanyalah suami. Tapi kalo khitbah, si wanita bisa membatalkan khitbah ke pihak laki-laki. Walaupun membatalkan sepihak adalah dzolim tapi tetap saja tidak ada ikatan apapun. Begitu sudah dibalikkan khitbahnya, maka posisi wanita adalah netral dan bisa menerima khitbah dari yang lain. Tapi sebelum khitbah, biasanya laki-laki akan bertanya "status masih makhtubah atau nggak?", jawab si wanita – "semalem iya tapi pagi sudah dibatalin" maka bisa diajukan khitbah oleh si lelaki B.

Khitbah tidak diajukan oleh pihak calon suami ke calon istri, melainkan diajukan kepada ayahanda dari si calon istri. Sebab dalam akad nikah akan dilakukan oleh ayahanda. Maka yg berhak mengatakan "ya saya terima khitbahnya" hanyalah sang ayah.

Si ikhwan, "om,saya ingin menikahi anak om. Diterima nggak?"
Ayah menjawab "Ayah bisa menjawab iya atau tidak, atau bisa juga pikir-pikir"
Calon Ayah yang dalam genggamannya ada hak veto yg bisa melakukan apapun yg diinginkan. Tentu dia sebagai Ayah kandung tidak mau menerima pilihan yang tidak sesuai dengan pilihan anaknya. Pasti si Ayah akan akan diskusi/musyawarah dengan anaknya. Tapi, pada akhirnya yang menentukan diterima atau tidak diterimahnya sebuah khitbah adalah Ayahnya.

Bagaimana  bila Ayah kandung setuju tapi anak tidak. Kalau bicara hukum, posisi yg lemah adalah anak. Bagaimanpun anak gadis yg belum menikah masih ditentukan oleh Ayah kandungnya. Berbeda bila wanita itu sudah pernah menikah atau janda. Ayah tidak bisa memaksa.

Pembatalan
Dilakukan ketika khitbah sudah terjadi (makhtubah).
Ada hal-hal yg akhwat rasa tidak sesuai dengan konsepnya yg diinginkan. Dalam proses itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masih memerintahkan untuk ta'aruf. Bukan hanya itu, tapi juga saling melihat. Yaitu secara fisik dengan memperhatikan nilai syari'atnya yaitu wajah dan telapak tangan hingga ke pergelangan tangannya.

Bagaimana dengan orang yang mempunyai harapan ideal : badannya begini, rambutnya begini, kulitnya begini. Dalam hal ini islam masih memberikan jalan yg lain, yaitu mengirim utusan. Pihak akhwat atau mahramnya diutus bertemu si calon. Jadi bisa melihat secara langsung. Bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus salah seorang kerabatnya "datangilah calon yang saya mau nikahi itu dan ciumlah aroma tubuhnya dan bau aroma mulutnya" –  karena tidak etis bila Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan hal tersebut secara langsung. Dari situ baru bisa dijadikan dasar mau dilanjutkan ke pernikahan atau tidak.

Tidak ada dalam Islam orang dipaksa menikah. Suka atau tidak.
Zaid (budak) dan Zainab (wanita bangsawan) dipaksa menikah padahal tidak sekufu. Diluar wahyu yang diturunkan oleh Allah swt, rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah memaksa para sahabatnya menikah dengan orang lain yang tidak disukainya.

Membatalkan pernikahan ketika nikah sudah terjadi (talak/cerai), atau ada juga istilah para fuqaha yaitu fashun nikah (fasakh) yang artinya terurainya ikatan pernikahan. Bila cerai adalah memutuskan berhenti karena satu dan lain hal. Sedangkah fasakh adalah si suami istri menganggap pernikahan tidak pernah ada. Misalnya, baru diketahui keduanya masih saudara sepersusuan.

Wallohu a'lam bish showwab.

*penulis mencoba menuangkan setengah tausiyah dari rekaman audio di telepon genggam yang telah disimpan lama dan baru diketahui isinya belakangan ini*

2 comments:

  1. khitbah lebih dari satu boleh g

    ReplyDelete
  2. tidak boleh, selesaikan satu satu prosesnya.

    ReplyDelete