July 31, 2015

Abu Thalhah & Ummu Sulaim

Kisah sebuah pernikahan Abu Thalhah dan Ummu Sulaim yang berbuah keberkahan dalam hal musibah.


Dihadirkan seorang anak yang sedang lucu-lucunya. Pandai. Dibesarkan oleh kedua orang tua mengerti bagaimana mendidik anak dengan baik. Hingga pada suatu hari anaknya terkena suatu penyakit. Kemudian pada suatu pagi sakitnya semakin parah, ia menggigil demam. Namun, di waktu bersamaan Abu Thalhah harus pergi berniaga ketempat lain.

Ummu Sulaim berkata, "pergilah dan berdoalah selalu untuk keberkahan keluarga kita. Sesungguhnya engkau berada atau tidak berada dirumah, engkau tidak bisa memberikan manfaat padanya."

"Kecuali hanya Allah yang bisa memberikan manfaat dan mudharat pada kita.", Lanjut Ummu Sulaim.

Maka Abu Thalhah berangkat.

Ketika masih dalam perjalanan, anaknya meninggal. Dengan segera Ummu Sulaim langsung memerintahkan keseluruh pembantunya untuk tidak memberitahukan perkara itu kepada suaminya karena ia sendiri yang akan menyampaikannya. Ummu Sulaim membersihkan dan merapikan rumahnya. Anak yang meninggal itu dibaringkan di kamar, diselimuti yg bagus dan diberi wewangian kamar. Ia melanjutkan memasak masakan terbaik kesukaan suaminya, Abu Thalhah. Setelahnya ia mandi, dandan dengan sangat cantik, dan memakai wewangian.

Hari itu ia berusaha untuk menampilkan keadaan rumah terbaiknya. Ditambah dengan pakaian yang ia pakai ketika menikah dulu.

Setibanya Abu Thalhah dirumah, ia langsung menanyakan keadaan anaknya
"Bagaimana keadaan anak kita?"

Sambil tersenyum Ummu Sulaim menjawab, "dia sudah jauh lebih tenang daripada sebelumnya".

Untuk memastikan, Abu Thalhah masuk menengok kamar anaknya. Dilihat anaknya sedang tidur. Tenanglah hatinya. Sementara, Ummu Sulaim segera mengajak Abu Thalhah makan dengan masakan yang telah disajikannya. Bangkitnya syahwat Abu Thalhah ketika menyadari kecantikan istrinya saat mengenakan pakaian pengantinnya. Malam itu ia mendatangi istrinya dan terjadilah hubungan layaknya suami istri.

Ketika dalam pembaringan, ummu sulaim mengungkapkan, 
"suamiku, menurutmu, jika ada seseorang menitipkan suatu barang pada orang lain. Kemudian suatu saat barang itu mau diambil oleh yang menitipkan, apakah boleh orang yang dititipkannya itu menolak untuk memberikan?"

"yaa tidak boleh karena itu milik yang menitipkan.",tanggap Abu Thalhah.

Dengan berani Ummu Sulaim melanjutkan,
"kalau gitu, anak kita juga merupakan titipan Allah. Dan hari ini Allah telah mengambil kembali apa yang ditipkannya pada kita."

Seketika, Abu Thalhah pergi menghadap Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-, untuk mengendalikan amarahnya ia mengadukan apa yang menimpanya kepada sang Nabi -shallallahu alaihi wa salam-.

"apakah semalem pengantinan?", tanya Baginda -shallallahu alaihi wa salam-

Dengan malu Abu Thalhah mengiyakan.

"semoga Allah memberkahi malam kalian", jawab Rasulullah -shallallahu alaihi wa salam-.


Lama waktu berselang setelah peristiwa itu, Anas bin Malik, putra Ummu Sulaim dari pernikahan terdahulu, mengatakan bahwa ia melihat Ummu Sulaim hamil dan melahirkan anak dengan nama Abdullah bin Abi Thalhah yang memiliki 9 orang putra yg kesemuanya adalah qori dan kesemuanya menjadi mujahid fisabilillah yang syahid gugur dijalanNya.

"inilah barokah malam itu yang didoakan Rasulullah --shallallahu alaihi wa salam- oleh pria yang sholih dan wanita yang sholihah." kata Anas bin Malik.

Inilah kondisi dimana semua hal melahirkan kebaikan. Baik musibah atau sebuah nikmat. Itulah barokah.

No comments:

Post a Comment