November 6, 2016

Mega Febriana_NHW#3

NICE HOMEWORK pekan ke-3 ini menarik sekali. Disamping tema materi yang disampaikan melalui grup Whatsapp "Membangun Peradaban dalam Keluarga", tantangan kami para peserta Matrikulasi juga semakin tak terbayangkan. Bismillaah :)

Bagi saya yang sudah berkeluarga di bawah ini beberapa point tantangan nya. Iya tantangan, saya lebih suka menyebut tugas sebagai tantangan agar kesan positif nya selalu mengikuti.

Pernikahan saya bersama suami hingga saat ini alhamdulillaah sudah berjalan 1.5 tahun. Kami sedang menikmati masa-masa penantian anak pertama kami di usia kehamilan saya 27 minggu ini. Sungguh Allah dengan segala nama, pujian dan karunia nya adalah Maha Baik.

Point pertama ini, meminta kami para peserta untuk dapat merasa-rasai kembali gimana jatuh cinta pada suami. Ini diwujudkan dalam surat cinta yang mengekspresikan alasan kuat bagaimana ia layak menjadi suami bagi saya sekaligus ayah bagi anak-anak kami kelak. Surat cinta ini kemudian diberikan kepada suami, dan bagaimana respon nya kita akan lihat nanti yah! ;)


Bismillaah,

Assalaamu'alaikum mas wahyu, bayi besar aku yang semoga Allah senantiasa melingkupi dirimu dengan keluasan berkah & kelapangan kasih sayangNya (aamiin). Petunjuk awal di surat cinta ini adalah aku diminta untuk jatuh cinta kembali ke dirimu. Entah, rasanya ini begitu mudah bagiku. Bagaimana aku tidak jatuh cinta di tiap harinya hingga saat ini, sedang dirimu dan segala kebaikan nya itu terus saja membuat aku semakin malu kepada Alloh.


Iya, malu. Karena tiada kebaikan yang Alloh limpahkan ke aku kecuali Dia-lah yang menggerakkan hatimu.
Menggerakkan hatimu, untuk memilihku di tengan tawaran CV akhwat lainnya yang mungkin bisa jauh lebih sholihah untukmu. Memilih untuk diurusi olehku yang sampe saat ini masih aja suka kelembekan ngadon oat, keasinan bikin telor ceplok, kemanisan ngulek sambel. Rasanya masih kurang untuk membantu mu pula dalam hal ketaatan kepada Rabb kita. Telat bangun sahur atau bablas sholat malam. Memilihku yang sesekali masih suka nungguin gosokan kemeja sebelum berangkat kerja. Memilihku yang mungkin setelah sejauh ini, banyak dirasa berbeda harapan dari sebelum engkau memilihku.


Iya, malu. Karena tiada kebaikan yang Alloh limpahkan ke aku kecuali Dia-lah yang menggerakkan hatimu.
Menggerakkan hatimu, yang melalui lisan mu tidak pernah keluar amarah kecuali diam atau mengalah. Memilih berdamai dengan rasa tidak nyaman untuk menjauhi konflik. Sikap ini yang kulihat sejak aku yakin memilihmu sebelum nikah dulu. Hingga saat ini, aku masih suka bertanya ke dirimu kan, "mas wahyu, kamu kok gak pernah marah ke aku sih?".


Iya, malu. Karena tiada kebaikan yang Alloh limpahkan ke aku kecuali Dia-lah yang menggerakkan hatimu.
Menggerakkan gerak, sikap dan tingkah lakumu kian menakjubi ku hari ke hari. Bukan usel-usel mu ke bantal, bukan pula kalimat default mu "bagus bagus", "alhamdulillaah". Melainkan, bantu-bantumu yang meringankan urusan kamar kita (semoga kelak Alloh karunia kita rumah di waktu yang tepat ya bayi ya. aamiin).
Kehadiranmu melalui antar-temani-antar di tiap kegiatan akhir minggu kita, yang mungkin bisa digunakan sebagai me time mu. Tapi, tidak sekalipun engkau alpa, kecuali disana ada panggilan amanah ke kantor.
DIrimu yang belajar memulai membuka diskusi atau sekadar sapaan basa basi dalam lingkungan baru.
Tiap-tiap kebaikan ini yang membersamaiku hingga kini.



Malu... Sebab sekian banyak kebaikan itu, tak jarang suka aku alpa. Tak jarang pula bersyukur, sekadar mengucap "terima kasih", atau "jazaakallaho khoiron ya, mas".


Mas wahyu, terima kasih sebab kelapanganmu menerima diriku sejauh ini. Seringnya buta atas kekurangan diri dan terlalu peka terhadap kekurangan pasangan.


Mas wahyu, terima kasih sebab kesederhanaanmu yang mendidik ku menjadi lebih sabar dan paham kapan kebutuhan kapan keinginan. 


Mas wahyu, terima kasih sebab kesediaanmu menerima segaaaala masukan, kritikan, dan keluhan ketimbang ucapan baik nan lembut dari lisanku yang mungkin lebih berhak dirimu dapatkan.

Mas wahyu, terima kasih sebab dirimu aku merasakan kasih sayang Alloh begitu besar kepadaku. Kasih sayang ini yang harusnya sering seriiing aku syukuri di sujud sujud ku.


Semoga doa-doa dalam diamku bersambung dan Alloh sebaik-baik pemberi yang akan membalasnya. Aamiin...

Last but not least, teringat masa-masa istikhoroh akhir 2014 lalu, yang membuatku yakin memilihmu bukan hanya sebagai suami melainkan kelak juga sebagai ayah untuk anak keturunan kita ialah AGAMA dan kesederhanaan mu. Keimananmu atas rizqi dan semua urusan tidak luput dari kuasa Alloh, sehingga ini yang mungkin membuatmu begitu santai atau lapang menghadapi semua tantangan kita. 

Semoga kesemuanya terhitung sebagai amal shalih disisi Alloh dan keluarga ini Alloh bersamai hingga ke surga tertinggi. aamiin :)


Udah gitu aja, kutunggu responmu ya, bayiyyy!
Dan, ini adalah respon nya.


Point kedua,akan di skip ya, karena sesuai arahan fasilitator cukup di skip dan jelaskan bahwa belum memiliki anak.

Iya, saat ini masih hamil menuju usia 7 bulan. mohon doanya :)

Point ketiga, ialah bagaimana saya membaca kekuatan potensi diri saya sendiri.


Apa yang Alloh hadirkan di sisi saya saat ini pasti tidak luput dari kehendakNya. Alloh perjumpakan saya dengan karakter suami yang legowo, santai dan pandai mengelola amarah. Ini yang berseberangan dengan karakter saya sendiri. Agak cepat panik dan moody terhadap hal yang tidak berjalan sesuai harapan.

Menjalin rumah tangga bersamanya membuatku berpikir bagaimana Alloh memasangkan kaum adam dan kaum hawa berpasangan. Berpasangan bukan karena kecocokan di dalam nya, melainkan keberadaan keduanya untuk saling menyempurnakan satu sama lain. Ini pula yang harusnya sering saya tekan kan kepada diri saya untuk berdamai dengan perbedaan yang ada di suami.

Dengan kehadiran saya di tengah keluarga saat ini, dapat saya gambarkan kekuatan potensi yang saya miliki meliputi :

a. Mudah beradaptasi.
Karakter suami yang pendiam dan cenderung introvert dan menggabungkan dengan karakter keluarga saya yang berkebalikan. Ini yang menjadi tantangan saya untuk saling memberikan masukan kepada suami.
b. Mempunyai strategi perencanaan khususnya dalam hal-hal penting, seperti bagaimana perencanaan waktu kehamilan, kelahiran, hingga apa-apa yang akan dilakukan tiap bulannya biasanya saya dan suami membuat kalender perencanaan bersama.
c. Semangat menggali ilmu.
Kalau ditanya suami kenapa memilih saya, salah satu jawabnya adalah karena saya orangnya pengen banget belajar. Iya, kenapa pengen belajar karena merasa diri ini butuh. Fakiiir sekali atas segala ilmu. Misal tentang kehamilan dan persalinan. Selain suami yang support membelikan banyak buku terkait, saya kudu jadwalin baca artikel, tanya referensi, melihat rekaman seminar atau rekaman soundcloud.

3 highlighted item ini yang alhamdulillaah dapat saya yakini sebagai kekuatan potensi diri yang saya miliki.


Point keempat ini adalah bagaimana saya melihat lingkungan di depan saya, hikmah apa yang Alloh hadirkan disana dan mengapa keluarga saya dihadirkan disini.

Masih berkaitan dengan NHW# 2 lalu, bahwa kehadiran keluarga saya saat ini menjadi semangat bagi saya untuk bagaimana meneruskan generasi yang lebih baik. Lahir dari keluarga yang mungkin di zaman nya dulu tidak seperti sekarang, dimana arus ilmu dan informasi mudah sekali di dapatkan. Kajian ilmu agama mudah ditemui. Kemudian, didikan keluarga dulu juga sudah mulai banyak diarahkan perbaikan nya seperti sekarang ini.

Sehingga saya pahami bahwa, kehadiran saya dalam kondisi seperti tersebut pasti memberikan banyak hikmah. Salah satunya yang saya sadari adalah membangun generasi yang lebih baik sesuai dengan kehendak Alloh, yakni terlihat dalam Al-Qur'an yaitu kisah kisah keluarga nabi serta pendidikannya. Ini yang sedang saya kaji bersama suami untuk bekal anak kelak.

Semoga Alloh karuniakan konsisten dan istiqomah dalam prosesnya. Semangat!


Salam Ibu Profesional

6 Safar 1438H / Minggu 11 Nov 2016
14.50 WIB

No comments:

Post a Comment