November 10, 2016

Lihatlah Respon Suami Anda!

Baiklah, kali ini saya akan menggambarkan bagaimana respon suami saya, atas surat cinta pada NHW#3 lalu. ketika itu ba'dha ashar, suasana nya juga lenggang sekali jadi saya berpikir ini merupakan waktu yg tepat bagi saya memberikan satu lembar A4 full bertulis ungkapan saya tersebut.

sret. ya, dia mulai membacanya. malu banget rasanya, seperti pingin nangis juga entah kenapa.
kupikir ia akan menyelesaikan bacaan dengan sangat cepat, salah satu karakternya sebagai pembaca cepat. Namun, kali ini berbeda. Sepertinya dia pelan-pelan sekali men-screening tulisan saya. Entah karena bahasanya yang sulit dimengerti (haha bukan sok puitis ya, melainkan memang kurang bisa terlalu frontal). Spontan saya bertanya, "mas wahyu kok tumben agak lama bacanya? terlalu berat ya pembahasaan nya" (hehehe dia nyengir aja)
"enggak, kamu kan mau aku pelan-pelan bacanya", jawabnya. Ea, bisa aja nyenengin istrinya.

Selesai ia membacanya, kemudian kami saling bertatapan... dan nyengir. (lagi).
Memberikan respon terhadap sesuatu yang 'too into us' baginya memang bukan hal yang mudah. Suasana ketika itu juga sempet diam, krik krik, kemudian nyengir lagi. Saya membaca sekali gugup dan kelu dari wajah nya. Saya memahami bahwa mengungkapkan perasaan atas sesuatu baik secara verbal maupun non verbal baginya adalah tidak biasa. Walau sempet sedih juga tapi entah kenapa terlihat sekali di raut nya ingin sekali berkata sesuatu tapi bingung seperti apa. (duh, jadi mewek haru nih). Muka nya memerah. ah, bayiyy :)

"yaudah sini sini aku peluk", lanjutnya.
suasana kian haru. Tapi tetap saja, lelaki pantang menunjukkan rasa haru nya. Raut nya masih nyengir. (haha)

kemudian kujelaskan kembali, "kamu bebas mau merespon seperti apa. Bisa dibales suratnya langsung, verbal atau non verbal atau apapun boleh" (saya nya masih haru. campur pundung)

Mungkin ia bisa menangkap harapan saya yang besar sekali bisa merespon secara verbal. Diselingi ketawa ketawa malu, akhirnya dia mengatakan "perasaan nya bahagia" (makin ketawa karena logat nya yang kaku sekali). Saking bingung nya, dia lanjutkan dengan membalas satu per satu kalimat yang saya tulis di surat. 
Bismillaah, dibalas verbal dengan "Bismillaah".
Assalaamu'alaikum, dibalas verbal dengan "Wa'alaikumussalaam, momo".
Semoga Allah senantiasa... dibalas verbal sama dengan "Semoga Alloh senantiasa..."
Balasan 2-3 kalimat awal ini puas membuat kami tertawa (dan haru juga bagi saya).
Kemudian saya nyerah (haha) dan katakan "yaudah, terserah kamu." (nyengir lagi tapi manyun)

kemudian suasana kaku itu sudah mulai mencair, terlihat dari balasan kali ini yang terdengar natural mengalir begitu saja.
"alhamdulillah, aku bersyukur pada Alloh karena kamu juga sudah baik padaku. alhamdulillah, bagus. aku bersyukur kepada Alloh. Kamu sudah memilihkan yang baik baik. AKu percaya kalau yang baik akan dibalas dengan yang baik. dan selama ini tidak ada kritik karena isinya sudah yang baik baik. mudah-mudahan terus menjadi lebih baik di masa depan ya, momo. mudah-mudahan kita lebih dekat kpd Alloh, bertambah yang baik-baik dan berkurang yang buruknya. makasih ya sudah menjadi istri yg baik, yg selalu ngingetin susah maupun senang. terus berusaha menjadi lebih baik, banyak belajar, beramal sholih, dan mengajarkan yang baik-baik.."

Tanpa disadari, obrolan ketika itu menjadi panjang dan terpikir banyak hal. Bagaimana suatu karakter yang saya anggap sebagai kelebihan, nyatanya menjadi suatu kekurangan bagi pasangan saya ini. Contohnya adalah, menghadapi suatu masalah begitu santai. "bukan santai, tapi pasrah sama Alloh", katanya. Disana kita menjadi saling mengingatkan untuk terus berdoa sama Alloh, karena perkara menggerakkan hati adalah kuasa Alloh jadi mintanya sama Alloh terus aja.

Alhamdulillaah, jazaakallahu khoiron, mas wahyu.
Sederhana dan apa adanya dirimu itu, mungkin mengartikan bahwa Alloh menghadirkan dirimu untukku salah satunya untuk mengajari ini.

No comments:

Post a Comment